Wahyu Sardono (Dono), Kasino Hadiwibowo (Kasino) dan Indrodjojo Kusumonegoro (Indro). Siapa yang nggak tahu 3 orang ini? Mereka adalah 3 orang paling dikenal karena grup lawak mereka: Warkop DKI.

Kamu nggak salah kalau menganggap kata warkop yang digunakan berasal dari warung kopi: tempat nongkrong sejuta umat, sedangkan DKI; selain merupakan inisial dari anggotanya, ternyata diambil dari potongan nama ibu kota Indonesia: DKI Jakarta.

Dari film sampai TV

warkop dki

sumber: sejarahri.com

Mereka ini sangat terkenal pada masanya. Dari dekade 80-an, mereka biasa menyumbangkan setidaknya dua film setiap tahunnya. Ketika masa kejayaan film mulai surut, mereka nggak ikut-ikutan surut. Televisi yang saat itu perlahan menggantikan film, membuat mereka beralih format saja. Ketika film mulai marak dikenal, mereka sering muncul di layar lebar. Di saat TV mulai ramai, mereka hanya pindah ke kotak kecil di rumah-rumah saja.

Meskipun personel Warkop DKI hanya tersisa satu(Indro), namun humor mereka masih terus dikenang oleh masyarakat. Bagaimana tidak? Hampir setiap tanggal merah atau hari libur, film-film mereka yang jumlahnya mencapai lebih dari 34 judul ini selalu ditayangkan. Kita pun dibuat maklum dengan lawakan mereka yang biasanya mengandung humor slapstick, yakni humor yang biasanya membuat penontonnya tertawa dengan mengandalkan kelucuan gerak ketimbang kelucuan dengan dialog atau ucapan.

Selain itu, Warkop DKI makin dikenang ketika Falcon Pictures; salah satu rumah produksi di Indonesia, membuat sebuah film untuk mengenang karya-karya mereka. Film tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 & 2. Di dua film ini, kita kembali melihat kelucuan Dono, Kasino & Indro yang diperankan oleh aktor papan atas Indonesia. Nggak main-main, pemeran Dono, Kasino dan Indro diperankan oleh Abimana Aryasatya, Vino G Bastian dan Tora Sudiro.

Berawal dari program radio

warkop dki

sumber: adamardiwinata.blogspot.com

Namun jauh sebelum Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 & 2 meramaikan Indonesia dan sebelum Warkop DKI muncul di TV dan membintangi puluhan film-film klasik, Dono, Kasino dan Indro pertama kali mendapatkan ketenaran setelah mengisi sebuah program radio di salah satu stasiun radio tertua di Indonesia: Prambors. Program itu berjudul Obrolan Santai di Warung Kopi.

Obrolan Santai di Warung Kopi adalah program radio garapan Temmy Lesanpura, Kepala bagian Programming Radio Prambors pada saat itu. Program tersebut berjalan setiap hari Jum’at dari jam 20:30 sampai 21:15. Obrolan Santai di Warung Kopi pada saat itu nggak hanya beranggotakan Dono, Kasino dan Indro. Ada juga Nanu Mulyono dan Rudy Badil. Mereka berdua ini adalah anggota Warkop DKI yang kerap dilupakan. Tanpa mereka, kita nggak mungkin mengenal Warkop DKI seperti sampai saat ini.

Bagaimana ceritanya mereka bisa bertemu? Mengutip dari Warkopdkiwiki, Temmy Lesanpura saat itu meminta Hariman Siregar, mahasiswa UI untuk mengisi acara di Prambors. Hariman lalu mengajak Kasino dan Nanu, 2 mahasiswa UI yang kerap melawak di kampusnya. Setelah disetujui juga oleh Rudy, perlahan Obrolan Santai Warung Kopi ikut disusul oleh Indro dan juga Dono.

Ini adalah titik mula Warkop DKI mulai terdengar ramai di masyarakat. Pada program tersebut pula, kita nggak hanya dengar lawakan remeh-remeh. Berhubung semua anggotanya saat mengisi program tersebut adalah mahasiswa-mahasiswa kritis, pendengar Obrolan Santai Warung Kopi juga mendapatkan berbagai macam pembahasan-pembahasan seputar sosial-politik dibungkus dengan humor jenaka. Ini adalah semangat dari Warkop DKI yang ingin diteruskan oleh Warung Pintar, yakni menyediakan ruang obrolan di mana semua orang bisa berbicara terkait apa saja, mulai dari hal lucu-lucu sampai hal-hal serius.

Bagaimana dengan Sobat Warung? Apa yang terlintas di benak kalian saat mendengar kata Warkop DKI? Share di kolom komentar ya!